Mahasiswa Pendidikan Matematika UNIMUDA Sorong Raih Juara IV Papedanomics 2026 melalui Gagasan Papua Value Cloud

Mahasiswa Pendidikan Matematika UNIMUDA Sorong Raih Juara IV Papedanomics 2026 melalui Gagasan Papua Value Cloud

Sorong, 2 September 2026 — Prestasi akademik kembali ditorehkan mahasiswa Program Studi Pendidikan Matematika Universitas Pendidikan Muhammadiyah (UNIMUDA) Sorong. Retno Febriani, mahasiswa Program Studi Pendidikan Matematika, berhasil meraih Juara IV Lomba Karya Tulis Rekomendatif kategori Mahasiswa Khusus Papua dalam ajang Papedanomics 2026 tingkat nasional di Manokwari.

Prestasi tersebut diraih melalui karya tulis berjudul “Papua Value Cloud: Ekosistem Data Rantai Pasok Berbasis Kolaborasi Multipihak untuk Mendukung Hilirisasi dan Pengendalian Inflasi Daerah di Papua Barat.” Karya ini mengangkat persoalan strategis pembangunan Papua Barat, khususnya terkait rantai pasok, distribusi komoditas, pengendalian inflasi, serta optimalisasi hilirisasi potensi ekonomi lokal.

Gagasan yang ditawarkan melalui Papua Value Cloud diarahkan untuk membangun ekosistem data rantai pasok yang mempertemukan pemerintah daerah, dunia usaha, akademisi, dan masyarakat dalam sebuah sistem kolaboratif. Melalui pendekatan tersebut, data produksi, distribusi, kebutuhan pasar, dan kondisi harga diharapkan dapat menjadi dasar dalam menghasilkan kebijakan yang lebih responsif dan berbasis data.

Capaian Retno Febriani menjadi semakin bermakna karena kompetisi tersebut memberikan ruang bagi mahasiswa Papua untuk menyampaikan gagasan akademik yang berangkat dari persoalan nyata di daerah. Keikutsertaan dalam kompetisi nasional tersebut sekaligus menunjukkan bahwa mahasiswa Pendidikan Matematika memiliki peluang luas untuk mengembangkan kompetensi akademiknya melalui penelitian, penulisan ilmiah, analisis data, dan pengembangan gagasan inovatif.

Kaprodi: Mahasiswa Harus Berani Mengubah Persoalan Menjadi Gagasan

Kepala Program Studi Pendidikan Matematika UNIMUDA Sorong, Dwi Pamungkas, M.Pd., menyampaikan apresiasi atas capaian yang diraih Retno Febriani. Menurutnya, prestasi tersebut bukan semata-mata keberhasilan mahasiswa dalam sebuah kompetisi, tetapi juga menjadi bagian dari proses akademik dalam membentuk kemampuan berpikir kritis, analitis, sistematis, dan berbasis data.

“Kami melihat prestasi ini bukan hanya sebagai pencapaian individu mahasiswa, tetapi sebagai bagian dari proses akademik yang membentuk mahasiswa untuk mampu membaca persoalan di lingkungan sekitarnya, mengolah informasi secara kritis, kemudian menawarkan gagasan yang dapat memberikan kontribusi bagi pembangunan daerah,” ujar Dwi Pamungkas, M.Pd.

Ia menjelaskan bahwa Pendidikan Matematika tidak hanya berorientasi pada penguasaan konsep dan prosedur matematis. Lebih dari itu, mahasiswa dibekali kemampuan berpikir logis, kritis, analitis, sistematis, serta kemampuan memahami dan menggunakan informasi untuk mengambil keputusan.

Menurut Dwi Pamungkas, karya Papua Value Cloud menunjukkan bagaimana kemampuan tersebut dapat dikembangkan untuk merespons persoalan yang lebih luas. Mahasiswa tidak harus membatasi kontribusinya pada persoalan pembelajaran matematika, tetapi dapat menggunakan kompetensi akademiknya untuk membaca berbagai persoalan sosial, ekonomi, pendidikan, dan pembangunan di lingkungan sekitarnya.

“Kami berharap capaian Retno menjadi inspirasi bagi mahasiswa Pendidikan Matematika lainnya untuk berani melakukan penelitian, menulis, mengikuti kompetisi ilmiah, dan menghadirkan gagasan yang tidak hanya kuat secara akademik, tetapi juga relevan dengan kebutuhan masyarakat Papua,” tambahnya.

Retno Febriani: Mengubah Persoalan Daerah Menjadi Gagasan Akademik

Bagi Retno Febriani, keikutsertaannya dalam Papedanomics 2026 menjadi pengalaman akademik yang mempertemukan proses belajar di perguruan tinggi dengan persoalan nyata yang dihadapi masyarakat Papua.

Melalui karya yang disusunnya, Retno berupaya melihat persoalan ekonomi daerah tidak hanya dari sisi harga dan distribusi, tetapi juga dari aspek data, koordinasi, tata kelola, rantai pasok, serta penciptaan nilai tambah bagi komoditas lokal.

“Saya ingin menunjukkan bahwa mahasiswa juga dapat mengambil bagian dalam menjawab persoalan pembangunan daerah melalui gagasan dan karya ilmiah. Papua memiliki sumber daya dan potensi yang besar, sehingga yang dibutuhkan bukan hanya bagaimana menghasilkan komoditas, tetapi juga bagaimana memastikan komoditas tersebut memiliki nilai tambah dan memberikan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat Papua,” ungkap Retno.

Gagasan Papua Value Cloud menempatkan data sebagai salah satu fondasi penting dalam pengambilan keputusan. Integrasi informasi mengenai produksi, distribusi, kebutuhan pasar, dan harga diharapkan dapat membantu pemangku kepentingan memahami kondisi rantai pasok secara lebih komprehensif.

Pendekatan tersebut juga menempatkan berbagai pihak sebagai bagian dari ekosistem yang saling terhubung. Pemerintah berperan dalam regulasi dan kebijakan, dunia usaha dalam pengembangan rantai pasok dan hilirisasi, akademisi dalam riset dan inovasi, sedangkan masyarakat menjadi bagian penting dalam produksi sekaligus pemanfaatan informasi.

Dari Pendidikan Matematika untuk Kontribusi bagi Papua

Prestasi Retno Febriani memberikan gambaran bahwa ruang kontribusi mahasiswa Pendidikan Matematika dapat berkembang jauh melampaui ruang kelas. Kemampuan berpikir matematis yang dibangun selama proses pendidikan dapat menjadi modal penting untuk memahami persoalan kompleks, mengolah informasi, membaca pola, menganalisis data, dan merumuskan alternatif solusi.

Capaian Juara IV Papedanomics 2026 sekaligus menjadi bukti bahwa mahasiswa dari Papua memiliki kapasitas untuk hadir dalam ruang akademik nasional dengan membawa gagasan yang berangkat dari kebutuhan daerah.

Bagi Program Studi Pendidikan Matematika UNIMUDA Sorong, prestasi tersebut menjadi motivasi untuk terus membangun budaya akademik yang mendorong mahasiswa meneliti, menulis, berkompetisi, berinovasi, dan memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat.

Lebih dari sekadar sebuah penghargaan, pencapaian Retno Febriani menjadi representasi dari semangat mahasiswa untuk menjadikan ilmu pengetahuan sebagai instrumen dalam membaca persoalan dan menghadirkan gagasan bagi masa depan Papua.

Dari ruang kelas lahir gagasan. Dari persoalan Papua tumbuh inovasi. Dan melalui keberanian mahasiswa untuk meneliti dan menulis, ilmu pengetahuan dapat hadir sebagai bagian dari solusi bagi daerah.